ASAL – USUL

Image 

Pepatah jawa mengatakan “Ramai ing gawe sepi ing pamprih”  bahasa nasionalnya “Ramai dalam bekerja tidak mengharap upah”  dan itu sungguh-sungguh ada dibudaya jawa, gerakan kebersamaan tersebut namanya gotong royong dalam pepatah jawa dinamai “holobis kuntul baris”. Lihat burung kuntul (bangau) kalau mencari rejeki (makan) selalu bersama, terbang berbaris indah sekali menghias langit yang biru dengan mega putih berbaris pula diatas burung bangau terbang. Burung bangau muncul berterbangan dilangit pasti tanda musim panen padi atau musim semi, cuaca cerah suasana indah udara hangat penuh semangat.

Budaya jawa tersebut menginspirasi para sesepuh kakek moyang kita  untuk membangun peradapan atau ahlaq.  Mereka mengutamakan kebersamaan untuk mencapai tujuan mulya dan besar, seperti hari raya idul fitri ditambahkan oleh moyang kita dengan kata-kata “halal bi halal”  akhirnya terbudaya diindonesia. “halal bi halal”  100% karya moyang kita yang kreatif perpaduan antara budaya dan agama maka terciptalah hari besar lebaran idul fitri – “halal bi halal”.

Idul yang artinya kembali fitri yang artinya bersih, jadi idul fitri adalah kembali bersih, terciptalah hari raya idul fitri “halal bi halal” atau hari raya kembali dalam kebersihan lahir (fisik) maupun batin (hati).

Sungguh luar biasa pencipta ide lebaran idul fitri “halal bi halal” hingga saat ini menjadi budaya mudik atau pulang kampong, hingar bingar ramai tanpa upah, bahkan berani mengeluarkan upah (biaya) untuk bertemu sanak saudara dikampong halamannya.

 

Filosofi budaya idul fitri “halal bi halal” sangat bagus, yaitu silaturohim dengan kerabat, saudara, handai tolan yang satu kampong, dan kita patut bangga karena itu karya kakek moyang kita.  Dihari raya ketujuh sering disebut hari raya ketupat dari kata kupat singkatan dari ngaku lepat (pengakuan kesalahan), hari raya kupat ini juga budaya hasil karya nenek moyang mungkin copy-paste dari hari raya cap go meh (hari raya suku cina) tujuh hari setelah hari raya imlek  gong xi fa choi. Saya merenung dan otak-atik pikiran sepertinya tepat dan bagus sangat perlu dilestarikan dan dikembangkan hari raya idul fitri “halal bi halal” dan ketupatnya, sehingga bisa produktif dan bermanfaat.

 

Hari raya idul fitri “halal bi halal” dan diucapkan “Minal Aidin wal-faizin”  adalah tradisi yang biasa diucapkan masyarakat Indonesia, Malaysia, Singapura dan Brunei saat merayakan hari raya Idul Fitri.

Ucapan  “Minal Aidin wal-faizin”   diterjemahkan secara umum “Semoga kita semua tergolong mereka yang kembali ke Fitrah dan berhasil dalam latihan menahan diri” .

 

Asal-usul ucapan “Minal Aidin wal-faizin”  ini menurut seorang ulama tidaklah berdasarkan dari generasi para sahabat nabi ataupun para ulama setelahnya (Salaf as-Shaleh). Perkataan “Minal Aidin wal-faizin”  mulanya berasal dari seorang penyair dimasa Al-Andalus, yang bernama Shafiyuddin Al-Huli, ketika dia membawakan syair yang konteknya mengisahkan dendang wanita dihari raya.

Ucapan Idul Fitri sesuai sunnah, ucapan Minal Aidin wal-faizin bukan sunnah dan tidak akan dimengerti maknanya oleh orang Arab, kalimat  Minal Aidin wal-faizin tidak ada dalam kosa kata kamus bahasa Arab, dan hanya dapat dijumpai makna kata per katanya saja. Tidak ada dasar-dasar yang jelas tentang ucapan Minal Aidin wal-faizin  baik berupa hadist, atsar ataupun lainnya.

Ucapan Minal Aidin wal-faizin sama dengan ucapan Halal bi Halal tidak ada dasarnya, namun sangat bermanfaat untuk budaya kita, maka mari kita lestarikan dan kembangkan budaya “Minal Aidin wal-faizin”  dan “halal bi halal”  kita sudah tahu asal-usul nya sehingga semakin mantap untuk melestarikan dan mengembangkan budaya tersebut, bahkan bisa kita eksport kemanca negara budaya “Minal Aidin wal-faizin”  dan “halal bi halal” .          

 

Zaman berubah peradapanpun mengalami perubahan, pada zaman kakek moyang kita penduduk masih belum sebanyak sekarang, lahan pertanian masih sangat subur bisa menghidupi masyarakat yang menduduki bumi Indonesia. Kakek moyang kita yang bernama Ronggo Warsito sudah mengingatkan melalui puisi dan sajaknya berbunyi “zaman ne zaman edan, yen ora edan ora keduman, ananging sak bejo-bejo ne wong sing edan isih bejo wong sing eling lan was podo”  (Zamannya zaman gila, kalau tidak gila tidak dapat harta, namun seuntung-untungnya orang gila, masih beruntung orang yang ingat Tuhan dan teliti dalam mencari harta).

 

Semua kejadian didunia dari zaman nabi Adam sampai kiamat nanti sudah diberitahukan oleh Tuhan melalui mahluk-Nya yang bernama manusia, Tuhan pun memilih manusia sebagai pengingat adalah yang selalu taat pada-Nya, dan yang bisa diingatkan pun yang taat pada-Nya. Sifat manusia yang mutlak ada, ialah lupa, sering lupa karena harta dan kesenangan phisik. Phisik adalah alat uji ruhani manusia, siapa yang bisa mengendalikan phisiknya surga hadiahnya.

 

Lamunan saya ini tepat dilebaran ketupat, mengakui kalau saya ini lepat melamun dan mengotak-atik budaya idul fitri “Minal Aidin wal-faizin”  dan “halal bi halal”   dengan ketupatnya. Walaupun lepat saya tetap otak-atik untuk berinovasi budaya  “Minal Aidin wal-faizin”  dan “halal bi halal” sesuai pengetahuan saya yang sempit, siapa tahu ada yang berkompeten dan berilmu mengembangkan otak-atik ini.   

 

Otak-atik awal saya mengacu pada polapikir dan gaya hidup zaman dahulu dan zaman sekarang. Zaman dahulu masyarakat mengutamakan peradapan berdasarkan “ewuh-pekewuh” (saling menghormati tanpa tendensi materi). Zaman sekarang masyarakat penghormatannya sudah bergeser tidak berdasarkan “ewuh pekewuh”  ,pergeseran peradapan penghormatan berdasarkan materi, orang terhormat kalau kaya bermateri. Zaman materi jangan diingkari dan jangan dihujat karena zaman itu memang berjalan maju, semua yang berjalan pasti kedepan kalau jalan mundur itu tidak normal.  Maka jangan mudah mencela dan menghujat harus diketahui sebabnya sehingga tidak menjadi generasi pemarah, perusak, penghujat dan pencela. Tuhan menciptakan dunia atas dasar hukum kausalitas, hukum sebab-akibat, sehingga adanya pergeseran peradapan karena adanya globalisasi dunia tanpa batas atau dunia tanpa pagar, maka kita harus maklum sehingga mudah mengkiati zaman.  Anda menghujat zaman sama saja Anda menghujat angin, kalau angin maunya keras merusak apa saja yang ada, Anda menghujat angin keras juga tidak akan ditanggapi oleh angin…..   Angin tetap akan merusak.

Bagaimana mengkiati angin ?! ikuti saja angin namun jangan terbawa angin, mudah kan !!!

 

Anda bisa lihat jelas bahwa “Minal Aidin wal-faizin”  dan “halal bi halal”  filosofinya sangat bagus, namun peradapannya yang berubah. Zaman dahulu pulang kampong sungguh-sungguh untuk silaturohim, kangen-kangenan, melepas rindu yang sangat indah. Zaman sekarang sudah berubah pulang kampong untuk unjuk kekayaan agar mendapat predikat kaya, banyak materi sukses, acuan sukses pada kepemilikan materi walaupun materi yang dimiliki dari hasil kredit.

Keramaian zaman dahulu sangat mengesankan dengan satu kendaraan yang namanya mobil truk dinaiki ramai-ramai tidak saling kenal menjadi akrab setelah diatas mobil truk. Keramaian zaman sekarang saling gengsi pamer kekayaan satu keluarga satu kendaraan, bahkan satu orang membawa satu kendaraan, ada yang membawa sepeda motor ada yang membawa mobil dan mayoritas kredit, sehingga jalanan ramai dengan kemacetan dan banyak hujatan, keluhan, umpatan karena ramainya penuh kemacetan.    

 

Kesimulannya, bagus mana zaman dahulu dan zaman sekarang ?!

Pendapat saya bagus zaman sekarang !!!

Kenapa bagus zaman sekarang ?

Karena zaman memang berjalan maju sehingga tidak akan kembali kezaman dahulu, maka lebih baik menyiapkan zaman yang akan datang, daripada bernostalgia masa lalu yang tidak akan kembali lagi.

Masa lalu adalah kenangan, saat ini adalah kehidupan, masa yang akan datang adalah harapan. Maka lebih baik menyiapkan harapan yang akan datang sesuai kemampuan dari pada hidup hanya berandai-andai dengan kenangan.

Janganlah kau berandai-andai sehingga berangan-angan “…….. angan-angan panjang itu milik setan”  begitulah nabi Muhammad mengingatkan ummatnya yang pelupa.

 

“Minal Aidin wal-faizin”  dan “halal bi halal” sudah membudaya di Indonesia,  alangkah baiknya dikembangkan seperti hari raya hindu di India dengan sungai gangga yang disebut sebagai sungai suci penebus dosa, yang setiap tahun dirayakan dan bisa mendatangkan turis internasional untuk melihat hari raya hindu dengan sungai gangganya.

Kita pun seharusnya bisa menghasilkan devisa mendatangkan turis internasioanal, mengemas “Minal Aidin wal-faizin”  dan “halal bi halal” sebagai komoditas pariwisata, dengan sajian yang langka yaitu masyarakat mudik. Budaya mudik sangat langka dinegara manapun tidak ada, kecuali di India dengan hari raya Hindu dan sungai gangganya. Kalau kita mengemas hari raya idul fitri dengan pemandangan langka masyarakat mudik beramai-ramai pasti akan menambah devisa Negara dan berpahala karena merubah kemubadziran (konsumtif) menjadi keberkahan (produktif).  

 

Selamat bertemu dihari raya idul fitri “Minal Aidin wal-faizin”  dan “halal bi halal”   dilebaran ketupat ditahun depan dengan penuh pembaharuan yang lebih bermanfaat untuk nusa dan bangsa.

 

 

Allah menjadikanmu berada di alam pertengahan antara alam materi dan malakut-Nya guna memperkenalkan tingginya kedudukanmu di antra mahluk. Kau adalah mutiara yang tersembunyi dalam kulit ciptaan-Nya.

 

Alam dapat menampungmu dari sisi fisik, tetapi ia tak dapat menampungmu dari sisi ruh.

 

 

……… Aaaaamiiiiin ………

 

 

 

Semoga bermanfaat …..

Salam dari Surga ………..


One response to “ASAL – USUL

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: