SERAKAH

Image 

Manusia mahluk yang sempurna semua sifat tertanam dalam hatinya, sifat buruk maupun baik ada dalam hatinya dan tinggal memilih memainkan kelakuan apa yang dijalaninya, mau curang, licik, pelit, serakah atau mau baik, jujur, adil, bijaksana semua bisa mereka mainkan karena semua manusia memiliki hati dan otak  yang sama, hanya berlatih mau sifat mana yang akan dimainkannya ?

Sifat buruk maupun baik itu hanya kebiasaan saja dan kebiasaan itu tercipta karena lingkungan pergaulannya, bergaul lingkungan buruk sifat akan jadi buruk begitu juga sebaliknya lingkungan baik tercipta sifat baik.

Saya sangat bersyukur dilahirkan dan dibesarkan dalam lingkungan desa yang mengutamakan ahlak mulia malu jika berbuat curang, licik, serakah dan berkelakuan buruk lainnya.  Awal tahun sembilan puluhan saya berkunjung ke Jepang, saya sangat kagum dengan kejujuran masyarakatnya mengingatkan masa kecilku hidup didesa yang sangat kental dengan kejujuran, orang desa sifatnya sama dengan masyarakat negara maju seperti jepang, saya berpikir kalau mau maju mindset-nya harus seperti orang desa ya ?   pola pikir dan gaya hidup orang desa sak madyo (secukupnya) sehingga tidak serakah, tamak dan licik.

Orang desa pola pikir dan gaya hidupnya mbloko suto (apa adanya) makanya sehat-sehat dan berumur panjang, apa yang ada dihati yaitu yang diucapkan, mereka tidak munafik kehidupannya sederhana dan apa adanya tidak pernah mengada-ada.

 

Sekarang yang saya sebut desa itu bukan tempat tinggal tetapi mindset dan life style-nya, saat ini saya tinggal di ibu kota dengan pola pikir dan gaya hidup mbloko suto anti kemunafikan, tamak, licik dan srakah, sekarang ahlak baik sudah masuk kategori langka mayoritas manusia egois selalu mementingkan diri sendiri tanpa peduli lingkungan dan orang lain.

Saya mempunyai pengalaman membina dan memodali anak muda yang baru lulus Universitas hasilnya satu anak sangat mengecewakan karena tidak berahlak mulia, dan satu anak sangat memuaskan karena berahlak mulia, semoga cerita ini bisa menjadi keprihatinan kita semua.

 

Empat bulan yang lalu saya kenal dengan anak muda lulusan Universitas Negeri ternama, dia lulus terbaik atau cum laude penampilan dan gaya bicaranya oke sesuai predikat yang didapat yaitu cum laude, dia cepat akrab karena pandai komunikasi, kemudian saya bina untuk jadi entrepreneur sesuai cita-citanya, dia saya percayai menilai (appraisal) alat komunikasi sesuai keahlian dan pengamannya, saya beli alat komunikasi tersebut untuk modal awal usaha dia.

Singkat cerita alat komunikasi tersebut deal saya beli atas appraisal dia seharga 25 juta, beberapa hari kemudian dia minta maaf kepada saya mengatakan appraisalnya salah seharusnya cuma harga 15 juta, saya oke saja dan saya suruh jual 15 juta segera, dia jual melalui perantara atau calo ditawarkan 25 juta perhitungan dia harga pokok dari saya 15 juta calonya 5 juta dia untung 5 juta.

 

Atas kejadian tersebut , apa komentar anda ?

 

Pasti anda tidak percaya produk Universitas Negeri ternama predikat Cum laude ahlaknya tidak terpuji, sebodoh-bodoh orang normal tindakan dia itu kriminal penipuan masuk golongan munafik yaitu ; apa bila dipercaya berkhianat.

Saya sangat penasaran dengan kejadian tersebut karena penilaian saya dia betul-betul anak yang baik dan santun, waktu saya tanya atas tindakannya tersebut jawabanya  dia tidak merasa salah, dia juga menjawab apa adanya sesuai kelakuannya yang tidak terpuji, fenomena apa ini ?

 

Saya bisa mengambil kesimpulan atas kejadian tersebut, masyarakat sekarang ini sudah tidak bisa membedakan ahlak baik dan buruk karena dikampus sudah tidak diajarkan ahlak yang diajarkan hanya nilai mata kuliah logika yang mengutamkan matematika, dan yang dikejar adalah nilai tinggi agar dapat predikat cum laude, itupun tidak aplikatif karena kurangnya studi kasus, apakah semua lulusan perguruan tinggi seperti itu ?

 

Tidak semua seperti itu, tetapi mayoritas ahlaknya tidak terpuji, binaan saya ada yang seangkatan dia juga se Universitas, ahlaknya sangat baik kerjanya produktif  pintar lobby dan komunikasi, dalam hal kuliah nilainya pas-pasan saja tidak sehebat dia. Setiap dikasih tanggung jawab pekerjaan maupun keuangan keputusannya selalu tepat tidak ada pikiran serakah apalagi licik. Sangat sesuai dengan tim kerja saya yang selalu mengutamakan kejujuran, kebersamaan, keikhlasan, kepedulian yang intinya ahlak baik yang diutamakan,  haram untuk serakah.

 

Serakah itu adalah penyakit hati yang merusak ahlak dan lebih ganas dari pada kanker, serakah mematikan orang lain dan dirinya sendiri, sedangkan kanker hanya mematikan diri sendiri, serakah dijaman akhir ini sudah mewabah karena bekerja bukan berdasar keahlian tetapi dasarnya ketamakan maka cara kerjanya serakah, maunya cepat kaya dan meminta bagian terbanyak itulah serakah.

 

Bisakah penyakit serakah disembuhkan ?

 

Penyakit serakah bisa sembuh dengan hijrah (pindah) pergaulan (lingkungan). Dari lingkungan buruk ke  lingkungan yang berahklak baik, yaitu lingkungan yang amanah ; jika bicara tidak bohong, jika berjanji selalu tepat dan jika dipercaya tidak berkhianat.

 

Ilustrasi :

Suatu ketika, utusan seorang kaisar Romawi mendatangi Umar bin Khattab. Istri Umar meminjam uang satu dinar dan membeli wewangian yang ia tuangkan pada suatu wadah, lalu menitipkannya pada si utusan untuk disampaikan kepada isteri kaisar itu sebagai hadiah.

Ketika istri sang kaisar itu menerima hadiah tersebut, ia mengosongkan wadah itu dan mengisinya dengan dengan batu-batu permata yang indah nan mahal.

Kemudian ia menyuruh utusan tadi untuk mengirimnya pada istri Umar bin Khattab sebagai balasan.

Istri Umar menerima hadiah tersebut, mengeluarkannya dari wadah dan meletakkan di seprainya. Ketika Umar pulang, ia bertanya pada istrinya, dari mana dia mendapatkan batu-batu permata itu ?

Istrinya menceritakan apa yang terjadi, lalu Umar mengambil permata-permata itu dan menjualnya.

Dari hasil penjualan tersebut ia memberikan satu dinar untuk istrinya, dan sisanya disedekahkan kepada fakir miskin.

 

Alam ini lahirnya berupa tipuan, sedangkan batinnya berupa pelajaran. Nafsu melihat kepada lahirnya yang menipu, sedangkan Qalbu melihat kepada batinnya yang menjadi.

 

Jika engkau menginginkan kemuliaan yang abadi, jangan membanggakan kemuliaan yang fana.

 

Maksiat yang melahirkan rasa hina dan kekurangan lebih baik daripada ketaatan yang melahirkan rasa bangga dan kesombongan.

 

 

……… Aaaaamiiiiin ……..

 

 

 

Semoga bermanfaat……

Salam dari Surga ………..

 

  

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: