MENTAL JUARA

Image 

Sifat manusia yang utama adalah lupa. Kejadian apapun kalau manusia lupa maka dianggap finish. Sifat lupa ibarat penghapus yang menghapus suatu kejadian sehingga tidak berlanjut ke tahap berikutnya. Manusia yang sering mengeluarkan kata-kata “lupa” pasti kualitasnya rendah. Akibatnya dia tersingkir dalam pergaulan.

 

Namun jangan khawatir, sifat lupa bisa dikelola agar tidak mudah muncul ke permukaan. Jika Anda sudah bisa mengelola sifat lupa, maka kualitas Anda menjadi unggul dan dapat diterima dalam pergaulan atau lingkungan sosial manapun. Orang yang mudah mengatakan “lupa” pasti pemalas dan egois. Jangan bergaul dengan orang pelupa maupun orang yang sering berkata lupa.

 

Manusia yang bermental cahaya (mental malaikat yang selalu bersujud, rendah hati dan bersyukur) pasti tidak pernah melupakan kejadian yang bersejarah yaitu proses penciptaan manusia. Dalam hidup di dunia, jangan pernah melupakan dari mana kita berasal, jangan sampai mengatakan lupa atas asal kejadian Anda sebagai manusia.

Kita semua berasal dari sperma menjijikkan yang berlomba untuk membuahi ovum dalam rahim. Setelah berhasil menjadi juara dan membuahi ovum, kita bisa lahir di dunia sebagai manusia. Sejarah itulah yang wajib diingat agar kita selalu bersyukur, tidak sombong dan bermental juara.

 

Manusia menjadi rendah diri dan sombong karena lupa terhadap sejarah bahwa dia dilahirkan di dunia sebagai sang juara setelah bersaing dengan milyaran sperma. Jika selalu ingat sejarah asal mula manusia dilahirkan didunia, maka manusia akan selalu rendah hati dan percaya diri.

 

Mental juara artinya adalah rendah hati, percaya diri, sabar, selalu bersyukur dan pantang menyerah. Mental tersebut akan melekat pada jiwa kita jika kita selalu ingat sejarah atau proses kelahiran manusia di dunia yang diciptakan sebagai sang juara.

Semua manusia yang lahir di dunia sudah menjadi juara. Antar juara lalu berlomba lagi untuk menjadi juara sesuai cita-citanya. Persiapan utama untuk menghadapi perlombaan menuju cita-cita adalah:

1.  Obyektif yakni menilai sesuatu secara logis disertai dengan argumentasi yang jelas.

2.  Tidak suka dipuji karena bisa mengakibatkan lupa diri.

3.  Tidak sakit hati jika dicela sebab celaan itu melatih kesabaran.

4.  Suka menerima kritik karena kritikan dapat mengoreksi kekurangan Anda.

5.  Berlatih tiada henti agar menjadi ahli dan siap berlomba.

 

Lima sifat tersebut jika sudah melekat pada jiwa Anda, Anda pasti seorang kesatria. Mental seorang kesatria adalah mental juara. Sang juara tujuan utamanya adalah berlomba mencapai finish yang pertama. Jika tidak mencapai finish pertama dan belum menjadi juara, dia tidak mengeluh. Dia segera mengoreksi diri secara objektif untuk mengevaluasi diri. Setelah itu dia berlatih lagi.

Mental juara seorang kesatria dalam menghadapi kekalahan selalu menghormati dan menghargai pesaing atau lawan bertanding yang menjadi juara. Sebaliknya jika menjadi juara, dia tidak merendahkan pihak lawan yang kalah alias tidak menjadi juara. Sang juara akan berlatih secara optimal. Apapun hasilnya baik menang atau kalah tetap bermental juara. Kemenangan dipandang sebagai dampak dari ketekunan berlatih. Hari ini tidak menjadi juara tidak masalah. Hari esok masih ada kesempatan untuk menjadi juara. Anda bisa melihat pertandingan apapun, seseorang yang bermental juara tidak peduli kalah atau menang, dia akan tetap berjabat tangan dan menghormati pihak lawan. Sebaliknya, seseorang yang tidak memiliki mental juara kalau kalah akan marah dan bertindak anarkis. Dia akan merusak apa saja yang ada di hadapannya.

 

Kisah nyata sebagai contoh mental juara :

Sejarah nabi Musa beradu mukjizat melawan kesaktian para dukun ahli sihirnya raja Fir’aun.  Ketika nabi Musa menghadap raja Fir’aun untuk menyadarkan atas kekejamannya Fir’aun, nabi Musa mengeluarkan mukjizat dari Tuhan yaitu tongkatnya dilemparkan didepan Fir’aun menjadi ular besar yang ganas. Atas kejadian tersebut Fir’aun menantang Musa untuk beradu kesaktian dengan para dukun ahli sihirnya. Pada hari yang telah ditentukan untuk beradu kesaktian, berkumpul penduduk senegara untuk menyaksikan adu kesaktian para ahli sihir melawan Musa.

Para dukun ahli sihir membawa berbagai macam alat sihir, tongkat, tali tampar, kotak kayu, besi, keris, linggis, tombak, kain kafan, uleg-uleg, udeng, akik mendelik, sabuk bodong, sarung wewegombel, susur kuntilanak, selimut sundel bolong, cawet zombie, macam-macam alat dukun dibawanya.

Prriiiitt…. peluit hakim pertandingan adu kesaktian dibunyikan, para dukun pesihir melemparkan alat-alat sihirnya ketengah lapangan, alat-alat sihir tersebut berubah menjadi ular yang ganas dan besar-besar. Penonton bertepuk riuh membahana melihat kejadian tersebut, Fir’aun berteriak…. mampus kau Musa..!!!

Dengan tenang dan santai Musa melemparkan tongkatnya ketengah lapangan yang sudah penuh dengan ular-ular besar ciptaan para pesihir. Begitu tongkat Musa dilempar dan mendarat ditengah ular-ular liar, tongkat Musa berubah menjadi ular yang maha besaaarrr…. tentu ular-ular ciptaan pesihir dimakan habis tak tersisa seekorpun. Penonton semakin riuh gegap gempita bersorak, berteriak…hoorreee…. tanpa dikomando para pesihir sujud kepada Musa.

Fir’aun marah berat melihat kejadian pensihir sujud kepada Musa, para pensihir menyatakan beriman kepada Tuhannya Musa, tidak beriman kepada Fir’aun lagi. Walaupun ancaman Fir’aun kepada para pensihir sangat sadis, yaitu dipancung (dipotong lehernya) yang beriman kepada Tuhannya Musa, namun para pensihir tidak takut mereka hanya takut kepada Tuhan Yang Maha Esa.

 

Sejarah nabi Musa dijaman raja Fir’aun tersebut sebagai contoh manusia bermental juara, dukun sihir yang dulunya kafir menyembah Fir’aun setelah bertanding mereka kalah dan mengakui Musa sang juara, dan mereka bertanya kepada Musa siapa Tuhan mu ? Musa menjawab Tuhan ku Allah yang Maha Esa, maka mereka para dukun sihir langsung beriman mengikuti keimanan Musa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Mental juara adalah mental yang sabar, tenang, syukur, keyakinan yang kuat tak tergoyahkan dengan apapun walau jiwanya diancam untuk dibunuh.

  

Marilah berlatih dan membudayakan mental juara. Tidak hanya pemain, penonton pun harus bermental juara. Jika tim atau pemain yang dijagokannya kalah, jangan merusak dan berbuat anarkis. Sampai saat ini masih banyak penonton yang tidak bermental juara sehingga kalau jagoannya kalah, mereka akan merusak apa saja meskipun tidak ada hubungannya dengan pertandingan. Akibatnya banyak pihak yang dirugikan. Seorang yang bermental juara siap menerima hasil apapun baik menang maupun kalah.

Mulailah dari diri sendiri untuk menanamkan mental juara agar kehidupan Anda sabar, tenang, senang, bahagia, sejahtera, sukses dan selalu bersyukur.

 

”Bukti kebodohan seseorang adalah selalu menjawab semua pertanyaan, menceritakan semua yang dilihat, dan menyebut semua yang diketahui”

 

”Bagaimana mungkin kau mendapat hal luar biasa, sedangkan kebiasaanmu belum luar biasa ?”

(Ibnu Atha’illah)

 

 

……………..Aaaaamiiiiin……………..

 

 

Semoga bermanfaat …….

Salam dari Surga………….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: